Friday, November 20, 2015

Pembantu Agenpoker.com Yang HOT dan GANAS - Agen Poker Domino Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER.COM

Agen Poker Domino Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER.COM


Agen Poker Resmi Indonesia


Agen Poker Domino Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER.COM


AGEN POKER - Perkenalkan namaku Anthony, dan panggilan akrabku adalah Anton. Aku berasal dari kota Malang (Jawa Timur), dan kedua orang tuaku masih tinggal di sana. Umurku baru 25 tahun, dan saat ini sedang studi Master tahun terakhir di Melbourne (Australia). Sejak lulus SMA aku langsung kuliah S1 di Jakarta, dan sempat bekerja selama setahun di Jakarta setelah lulus S1. Aku mendapat sponsor dari orang tua untuk melanjutkan pendidikan S2 di Australia. Aku memilih kota Melbourne karena banyak teman-temanku yang menetap di sana.
Di pertengahan bulan November 2004 adalah awal dari liburan kuliah atau di Australia sering disebut dengan Summer holiday (liburan musim panas). Summer holiday di Australia biasanya maksimum selama 3 bulan lamanya. Saat itu adalah pertama kali aku pulang ke tanah air dari studi luar negeri. Rindu sekali rasanya dengan makanan tanah air, teman-teman, dan orang tua.
Saat itu aku pulang dengan pesawat Singapore Airlines dengan tujuan akhir Bandara Juanda, Surabaya. Aku tiba di Surabaya sekitar pukul 11 pagi, dan terlihat supir utusan ayah sudah sejak jam 10 pagi menunggu dengan sabar kedatanganku. Ayah dan ibu tidak menjemputku saat itu karena hari kedatanganku tidak jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, ditambah lagi dengan macetnya lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong yang membuat mereka malas untuk ikut menjemputku di bandara.
Wajah supirku sudah tidak asing lagi denganku, karena supir kami ini sudah bekerja dengan ayah sejak aku berumur 5 tahun. Dia sudah aku anggap seperti pamanku sendiri. Aku sangat menghormatinya meskipun pekerjaannya hanya seorang supir.
Aku sempat mencari makan di kota Surabaya. Tempat favoritku tetap di restoran kwee tiau Apeng. Suasana restoran nampak tidak ramai, mungkin masih pagi hari. Di malam hari terutama di malam minggu, restoran ini akan penuh dengan antrean panjang.
Seabis makan, aku meminta supirku untuk langsung jos pulang ke Malang. Badanku terasa letih sekali karena perjalanan yang panjang. Sepanjang perjalanan kami menghabiskan waktu mengobrol santai. Bahasa jawa supirku masih terkesan medok sekali. Dahulu semasa sma, bahasa jawaku juga lumayan medok. Tetapi sejak kuliah di Jakarta, aku jarang memakai bahasa jawaku, sehingga terkesan sedikit luntur. Tapi setiap kata-kata jawa yang terucap oleh supirku masih bisa aku mengerti 100%, hanya saja aku membalasnya dengan separuh jawa separuh bahasa Indo.
Kemacetan lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong sempat menyita perjalanan pulang kami. Aku tiba di rumahku di kota Malang sekitar jam 4 sore. Sesampai di gerbang rumah, supirku menekan klakson, memberi peringatan orang di dalam rumah untuk membuka pintu gerbang.
Tak kurang dari 2 menit, pintu gerbang terbuka dan aku membuka jendela mobilku memberi sapaan hangat kepada bibiku. Bibiku yang satu ini juga lama ikut dengan ayah dan ibu. Bibiku ini bernama Tutik, dan sudah berumur sekitar 50 tahun lebih. Bibi Tutik jago sekali memasak masakan Indonesia. Makanan bibi yang paling aku rindukan selama aku kuliah di Jakarta dan Melbourne. Aku sudah membuat daftar panjang masakan Bibi Tutik selama 3 bulan liburan musim panas ini.
Setelah bersalaman dan bercanda ria dengan Bibi Tutik, tiba-tiba sosok gadis muda keluar dari pintu rumah memberikan salam kepadaku. Aku sempat tercengang oleh wajah cantik gadis yang masih terasa asing bagiku. Ternyata gadis muda ini adalah pembantu rumah yang baru, karena pembantu sebelumnya telah menikah dan pindah bersama suaminya. Aku menafsir bahwa umur gadis ini sekitar 17 atau baru 18 tahun. Setelah diperkenalkan oleh Bibi Tutik, pembantu baruku ini bernama Yanti.

AGEN POKER ONLINE - Yanti berperawakan sedang, sekitar 158 cm. Kulitnya sawo matang. Matanya hitam dan lebar sehingga tambak bersinar-sinar. Rambutnya hitam sebahu. Besar payudaranya bisa aku tafsirkan sekitar 32C. Pinggulnya mantap dan kakinya mulus tanpa ada borok. Wajahnya cantik berhidung mancung, hanya saja bibirnya sedikit tebal. Tapi mungkin itu yang membuatnya unik. Aku sempat tidak mengerti mengapa ibu bisa menemukan pembantu secantik ini.
Yanti membantuku membawa koper bagasiku masuk, dan menanyakan diriku apakah ada cucian atau pakaian kotor yang akan dicuci. Sepertinya Yanti telah diberi info oleh ibuku bahwa aku biasanya selalu membawa pakaian kotor sewaktu pulang dari Jakarta. Jadi tidak heran ibu bisa menduga bahwa aku pasti juga membawa baju kotor pulang.
Aku unpack 2 koper dan memisah-misahkan pakaian kotor dengan pakaian bersih, dan juga menata rapi oleh-oleh dari Australia. Aku sudah menyiapkan semua sovenir-sovenir untuk ayah, ibu, bibi Tutik, supir ayah. Dan tentu saja oleh-oleh yang pertamanya buat pembantu lama yang kini sudah tidak bekerja lagi dengan kita, saya berikan kepada Yanti. Ayah aku belikan topi cowboy dari kulit kangguru. Menurutku cocok untuk ayah, terutama disaat ayah sedang berkunjung di kebun apelnya. Ibu aku belikan kulit domba yang halus untuk hiasan lantai kamarnya. Supir ayah aku belikan korek api berlogokan kangguru dan kaos bergambarkan benua Australia. Sedangkan bibi Tutik dan Yanti, aku belikan 2 parfum lokal untuk setiap orang.
Yanti tampak hepi banget diberi oleh-oleh parfum dariku. Aku memang sengaja memilih parfum dengan botol yang unik, sehingga terlihat sedikit mahal.
Ayah dan ibu pulang dari kantor sekitar jam 6 sore. Malam itu bibi Tutik aku minta untuk memasak petai udang kecap favoritku. Aku melepas rindu dengan ayah dan ibu. Kami berbincang-bincang sampai larut malam. Tak terasa kami telah berbincang-bincang sampai jam 11 malam.
Kemudian aku berpamitan dengan ayah dan ibu. Badanku sangat letih. Aku sudah hampir 36 jam belum tidur. Aku tidak terbiasa tidur di dalam pesawat.
Sewaktu aku hendak menuju ke kamar tidurku, aku sempat berjalan berpas-pasan dengan Yanti. Melihat aku hendak berpas-pasan dengannya, Yanti langsung membungkukkan sedikit badannya sambil berjalan. Mata kami tidak saling memandang satu sama lain. Menurut tradisi kami, tidak sopan pembantu bertatap pandang dengan majikan saat berjalan berpas-pasan.
Malam itu, meskipun badan letih, aku masih belum langsung tidur. Aku sedang melihat-lihat photo-photoku dan teman-teman di Melbourne di handphoneku. Aku sempat kangen sedikit dengan Melbourne. Aku juga sempat berpikir mengenai Yanti, dan penasaran sekali bagaimana ibu bisa menemukan pembantu secantik Yanti.
Keesokan harinya aku bangun jam 10 pagi. Aku sudah tidak ingat sudah berapa jam aku tidur.
Suasana rumah sedikit hening. Ayah dan ibu sudah pasti balik ke kantor lagi. Aku memanggil-manggil bibi Tutik, dan tidak ada jawaban darinya. Tak lama kemudian Yanti muncul dari kebun belakang.
"Nyo Anton wis mangan? (tuan muda Anton sudah makan?)" tiba-tiba Yanti bertanya memecahkan suasana hening di rumah. Istilah 'Nyo' adalah kependekan dari 'Sinyo' (bahasa Belanda rancu) yang sering dipake di Jawa yang artinya tuan muda.
Aku berusaha membalas pertanyaan Yanti dengan bahasa Jawa. Tapi aku sudah tidak terbiasa berbincang-bincang dengan 100% bahasa Jawa.
"Durung, aku sek tas tangi kok. Mana bibi? Aku sudah laper nih! (Belon, aku baru aja bangun tidur. Mana bibi? Aku sudah lapar nih)" jawabku separuh Jawa separuh Indo.
"Bibik melok nyonya. Ora ero budal nang endi. Nyonya mau tetep pesen nang aku lek Nyo Anton pengen tuku apo gawe mangan isuk (Bibi ikut nyonya. Tidak tau pigi kemana. Nyonya tadi titip pesan kepada saya kalo tuan Anton ingin beli apa untuk makan pagi)" kata Yanti.
Pagi itu aku berharap bibi Tutik memasak untukku. Tapi apa boleh buat, aku akhirnya meminta Yanti untuk beli nasi pecel favoritku di dekat rumah. Hanya sekitar 100 meter dari rumahku. Setelah memberi uang kepadanya, Yanti pun langsung segera berangkat.
Sambil menunggu Yanti kembali, aku menyalakan TV sambil menonton acara-acara di MetroTV, RCTI, Trans TV, dan lain-lain. Rindu sekali aku dengan siaran-siaran televisi Indonesia. Aku sudah tidak sabar untuk menonton acara favoritku seperti Extravaganza, Empat Mata, dan banyak pula yang lainnya.
Hanya sekitar 20 menit, Yanti telah kembali. Sambil makan nasi pecel aku kembali menonton TV, sedangkan Yanti juga kembali ke kebun belakang kira-kira mencuci atau menjemur pakaian.
Mataku sempat mencuri-curi pandang ke kebun belakang. Terlihat wajahnya berkeringat karena terik matahari. Seperti yang aku duga, Yanti sedang menjemur pakaian. Aku merasa kasihan terhadapnya, karena rata-rata pakaian yang dijemurnya adalah milikku. Kulihat Yanti sedang berjinjit-jinjit sambil menjemur pakaian. Kaos yang dikenakan Yanti sedikit pendek, sehingga aku bisa melihat perut dan pusarnya. Perut Yanti ramping sekali. Payudaranya sedikit menonjol kedepan. Aku sedikit bergairah melihat kelakuan Yanti saat itu.
Aku menjadi tidak berkonsentrasi menonton TV, mataku tetap melirik saja ke arah Yanti.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara bibi Tutik.
"Anton sek tas tangi?! Cek siange tangine. (Anton baru bangun. Kok siang banget bangunnya)" suara bibi Tutik membuyarkan semuanya.
"Bibi teko endi? Tak carik-carik mau. (Bibi dari mana? Dari tadi aku cari-cari)" jawabku.
"Bibi sek tas melok nyonya nang pasar. Mari ngono barengi nyonya nang omahe koncone nyonya diluk. (Bibi tadi ikut nyonya ke pasar. Setelah itu nemenin nyonya ke rumah temannya sebentar)" jawab bibi.
"Anton gelem opo siang iki? Gelem sambel lalapan Tutik? (Anton pengen apa siang ini? Pengen sambel lalapan Tutik)" tanya bibi. Maklum memang sambel lalapan bikinan bibi Tutik tiada duanya. Makanya aku menamakannya 'Sambel Lalapan Tutik'. 


AGEN POKER ANDROID - Aku pernah berpikir untuk membuka depot khusus masakan bibi Tutik. Mungkin suatu hari nanti rencanaku ini bisa terwujud.
"Wuahhh ... gelem bibi. Wis kangen aku mbek sambel lalapan tutik. Goreng ikan pindang mbek goreng tempe sisan yo. (Wuahhh ... mau bibi. Dah kangen aku ama sambel lalapan tutik. Goreng ikan pindang dan goreng tempe juga yah)" jawabku dengan girangnya.
Hari demi hari, waktuku hanya terbuang menonton TV, makan masakan-masakan bibi Tutik, dan jalan-jalan ama teman-teman lama. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah sodara ayah, sodara ibu, dan sepupu-sepupuku. Lama kelamaan bahasa Jawaku kembali lagi seperti yang dulu.
Sampai pada suatu hari, sekitar pertengahan bulan December 2006 ...
Sudah sebulan lamanya, aku hanya bisa memandang sosok Yanti dari kejauhan. Semakin banyak memandang, semakin tumbuh rasa penasaran yang besar pula. Yanti tampak semakin lama semakin cantik di mataku. Dan maaf, kata-kata yang sebenarnya adalah Yanti semakin membuatku bernafsu. Ingin sekali aku memiliki dirinya, jiwa dan raganya. Aku seperti kerasukan saat ini, tiap kali aku melihat Yanti, otakku selalu terbayang-bayang dirinya saat terlanjang.
Pada suatu hari, seingatku itu hari Jumat. Aku bangun kesiangan, lewat jam 11 pagi. Kepalaku pening karena bangun kesiangan. Kulihat sekeliling, bibi Tutik sedang tidak ada di rumah. Aku masa bodoh dengan keadaan sekitar yang sunyi. Aku duduk di sofa empuk di ruang keluarga, tapi kali ini aku tidak menyalakan tv. Kudengar Yanti sedang di halaman belakang seperti biasanya mencuci baju. Kali ini aku memberanikan niatku untuk mendekati, mungkin awalnya harus saling kenal dulu biar akrab. Aku tidak pernah ngobrol santai dengan Yanti selama ini, kebanyakan aku ngobrolnya dengan bibi Tutik. Karena mungkin aku telah dibesarkan juga oleh bibi Tutik, jadi apa saja bisa nyambung bila ngobrol dengan bibi Tutik.
Aku beranjak dari sofa dan menuju halaman belakang untuk mengajak Yanti ngobrol. Namun hanya terhitung beberapa langkah dari pintu belakang, aku terpeset dan terpelanting di belakang. Bunyi 'gubrakan' tubuhku lumayan keras, dan pinggangku sakitnya bukan main. Yanti terkejut melihat tubuhku yang terpelanting ke belakang. Aku meringis kesakitan, sambil memegangi pinggangku yang sakitnya bukan main.
"Nyo Anton ... kok iso moro-moro tibo? ... (tuan muda Anton ... kok bisa tiba-tiba jatuh? ...)" tanya Yanti panik.
Aku hanya bisa meringis sambil menunjuk lantai yang masih basah.
"Lahh ... nyo Anton mosok ora ketok lek tehel'e sek basa ngono ... endi seng loro? ... (lah ... tuan muda Anton masa ngga liat kalo lantainya masih basah ... mana yang sakit? ...)" tanya Yanti sekali lagi.
Aku hanya bisanya meringis sambil memegang pinggulku yang masih saja sakit.
"Mlebu sek nyo Anton ... tak urut'e cekno mendingan ... longgo'o ndek sofa sek ... Yanti golek obat urut ndek kamar nyonya? ... (masuk dulu tuan muda Anton ... aku urut biar mendingan ... duduk saja di sofa ... Yanti cari obat urut di kamar nyonya? ...)" pinta Yanti.
Aku menurut saja dengan permintaan Yanti. Aku baringkan tubuhku di atas sofa empuk. Tak lama kemudian Yanti kembali sambil membawa minyak tawon. Dia memintaku berbaring dengan posisi telungkup, dan menyuruhku membuka setengah pakaian atasku. Saat ini aku ngga ada pikiran apa-apa, karena aku masih berkonsentrasi membuang rasa sakit di pinggangku.
Yanti terus mengurut-urut pinggangku yang sakit lumayan lama, dan sekali-kali memijatnya. Aku akui pijatan dan urutan Yanti terasa nikmat, sehingga perlahan-lahan rasa sakitnya mulai menghilang. Ternyata pertolongan pertama yang ditawarkan Yanti sangat ampuh.
Kini rasa sakit di pinggangku perlahan-lahan membaik, meskipun masih ada sedikit rasa sakit. Namun rasa nikmat pijatan dan urutan Yanti membuat akal sehatku mati. Aku kemudian timbul rencana lain di dalam otakku.
"Yanti ... ora enak iki ndek sofa ... nang jero kamarku wae ... ndek sofa iki kudu arep melorot wae badanku ... (Yanti ... kagak enak nih di atas sofa ... di dalam kamarku aja ... di atas sofa seperti yang mau melorot saja badanku ...)" pintaku.
Yanti hanya mengangguk pertanda setuju. Kemudian aku menuju ke kamarku. Yanti memintaku untuk menunggu di kamar dulu, dia mau menyelesaikan jemuran baju dulu, karena tanggung.
Di dalam kamar, otak kotorku sedang merencanakan taktik bagaimana mendapatkan tubuh Yanti. Segala cara dan taktik telat aku pikirkan, dan banyak sekali yang ada di otak ini.

AGEN POKER TERBAIK - Selang beberapa saat Yanti mengetok pintu kamarku, dan aku menyambutnya dengan gembira.
"Yanti, bibik Tutik nyang endi? Teko omah jam piro jerene? (Yanti, bibi Tutik pergi mana? Jam berapa nanti pulang katanya?)" tanyaku.
"Bibik ono urusan'e, ketokan'e sesok jange teko omah maneh. Koyok'e urusan penting. (Bibi ada urusan, keliatannya besok baru pulang rumah lagi. Kayaknya urusan penting)" jawab Yanti.
Mendengar jawaban Yanti tersebut, aku girangnya bukan main. Berarti hanya aku dan Yanti saja yang ada di rumah saat ini. Papa/Mama pasti sedang di kantor, dan biasanya mereka baru pulang sekitar jam 6 sore, dan ini masih baru jam 12 siang lewat. Aku mencium bau kemenangan.
"Yanti, pinggangku sek rodo loro ... tolong uruten maneh yo ... urutan-mu uenak tenan ... ora kalah mbek pijetan'e sing wis mahir (Yanti, pinggangku masih rada sakit nih ... tolong diurut lagi yah ... urutan-mu enak banget ... kagak kalah ama pijetan professional)" kataku sambil memujinya.
"Nyo Anton iki ono-ono wae ... iki sing pertama Yanti mijetin wong liyo ... ora ono pengalaman'e (tuan muda Anton ini ada-ada aja ... ini baru pertama kali Yanti pijitin orang lain ... masih belon ada pengalaman)" tundas Yanti.
"Walah walah ... sing pertama wae wes hebat ... pasti Yanti pisan hebat ndek bidang liyo (walah walah ... yang pertama kali aja sudah hebat ... pasti Yanti ada kehebatan di bidang lain) pujiku sekali lagi.
"Nyo Anton iso wae seh ... (tuan muda Anton bisa aja sih)" jawab Yanti singkat.
"Yanti ojok jeluk aku nganggo jeneng 'nyo' ... koyok cah cilik wae ... jeluk nganggo jeneng mas Anton wae ... (Yanti jangan panggil aku dengan nama 'nyo' ... kayak anak kecil aja ... panggil mas Anton aja)" pintaku. Yanti hanya menganggu tanda setuju.
Suasana kamar sempat hening, hanya terdengar bunyi napas Yanti yang sedang asyik mengurut pinggangku. Tiba-tiba Yanti bertanya "Wes mendingan saiki mas Anton? (Dah mendingan sekarang mas Anton)".
Otakku langsung merespon pertanyaan Yanti dengan cepatnya. "Pinggangku wes mendingan, tapi roso-roso'ne pokangku rodo linu. Coba'en diurut pisan pokangku. (Pinggangku sudah mendingan, tapi rasanya pahaku rada linu. Coba diurut juga pahaku)" jawabku ngawur tapi mengena.
Tanpa protes atau bertanya Yanti langsung mengurut pahaku. Pertama-tama paha kananku kemudian paha kiriku, saling bergantian. Posisi tubuhku kini terlentang, sehingga setiap urutan-urutan yang diberikan Yanti sangat terasa nikmat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam celana dalamku, ingin berdiri saja maunya. Yah singkat kata, batang kontolku dah dari tadi ingin sekali berdiri, tapi masih tertahan oleh celana dalamku.
Setelah selang beberapa saat, dengan tanpa malu-malu, tanpa basa-basi, dan dengan pasang muka beton, aku mulai memberanikan diri.
"Yanti, saiki pokangku wis ora linu maneh, tapi saiki endokku dadi rodo linu. Koyok'e nyambung teko pokang. Tolong sisan, tapi dielus-elus endokku lek ora keberatan. (Yanti, sekarang pahaku dah ngga linu lagi, tapi sekarang buah zakarku jadi rada linu. Kayaknya nyambung dari paha deh. Tolong juga, tapi dielus-elus saja buah zakarku kalo ngga keberatan.)", pintaku tidak tau diri.
Yanti sempat terhenti, dan bengong aja melihat tingkah polahku yang tidak tau diri itu. Di raut wajahnya tidak tampak seperti protes atau marah, melainkan seperti kaget dan bengong seakan-akan bertanya-tanya.
"Kok iso linu endok'e mas Anton ... emange endok'e mas Anton melok kepleset? (Kok bisa linu buah zakar mas Anton ... emangnya buah zakar mas Anton ikut terpeleset?)" tanya Yanti lugu.
"Yah, koyok'e ngono. (Yah, kayaknya begitu)" jawabku singkat.
Tanpa banyak tanya lagi, Yanti perlahan-lahan mulai mengelus-elus buah zakarku dari luar celanaku. Rasanya tidak begitu nikmat, tapi ada getaran napsu yang muncul dari otakku.
"Uenak mas Anton? (Enak mas Anton?)" tanya Yanti. Aku menjawab dengan mengeleng-gelengkan kepalaku pertanda tidak enak.
"Yo opo sek uenak? (Trus gimana yang enak?)" tanya Yanti lagi.
Aku berpikir sejenak, kemudian aku perolotin celanaku berserta celana dalamku. Serentak melihat gelagatku, Yanti kaget bukan main dan secara reflek memejamkan matanya.
"Mas Antonnn ... lopo kok mlorotin katok ... ora ono acara'ne ngomong dhisik ... (Mas Antonnn ... kenapa kok melorotin celana ... tanpa ada acara ngomong lagi)" protes Yanti dengan matanya yang masih terpejam.
"Loh, Yanti sek tas mau takok yok opo cekno uenak ... lah ya aku plorotin wae katok'e ... cekno uenak elus-elusan'e (Lho, Yanti tadi tanya gimana caranya biar enak ... yah aku lepas saja celananya ... biar enak elus-elusannya)" jawabku menyakinkan Yanti.
Yanti masih tetap memejamkan matanya, tapi tangannya mencoba meraba-raba pahaku mencari buah zakarku lagi. Setelah mendapatkan buah zakarku, Yanti kembali mengelus-elusnya lagi. Kali ini ... alamak ... enak banget. Terasa lembut sekali tangan Yanti. Serentak saja, batang penisku langsung tegak dan mengeras.
"Lah ... opo iki mas Anton ... kok atos soro? (Lho ... apa ini mas Anton ... kok keras banget?)" tanya Yanti heran dengan mata sambil terpejam.
"Yo delok'en wae Yanti ... buka'en moto-mu cekno weruh ... ora bahaya kok (Yah liat aja Yanti ... buka dulu matanya biar tau ... ngga bahaya kok)" jawabku dengan jantungku berdegup-degup kencang.
Perlahan-lahan Yanti membuka matanya, dan langsung terbelak kedua matanya sambil terheran-heran.
"Lah ... manuk'e mas Anton kok iso ngaceng koyok ngono ... linu sisan tah? (Lho ... burung mas Anton kok bisa tegang kayak gitu ... linu juga tah?)" tanya Yanti lugu.
"Iki jeneng'e manukku 'happy' alias seneng ... soale endok'e dielus-elus wong wedok sing ayu kayak Yanti (Ini namanya burungku 'happy' alias senang ... soalnya buah zakarnya dielus-elus wanita cantik kayak Yanti)" kataku mulai merayu.
"Mas Anton iki ... (Mas Anton ini ...)" kata-katanya terputus dan terlihat wajah Yanti yang malu-malu atas pujianku itu. Yanti ternyata masih lugu dalam hal beginian, membuatku semakin yakin kalo Yanti ini masih ting-ting alias perawan.
Tanpa disuruh olehku, Yanti mulai mengelus-elus batang penisku dengan lembut, kadang-kadang mengurut-urutnya. Tak karuan rasa, semakin dielus, semakin tegang dan tegak berdiri. Yanti dari tadi senyum-senyum saja, dan tampak wajahnya yang masih malu-malu.
Setelah lama dielus-elus oleh Yanti batang penisku berserta buah zakarnya, aku ingin melaju di langkah berikutnya. Aku semakin berani dan tidak sungkan-sungkan lagi. Sambil berbaring kutatap wajah cantik dan manis Yanti.
"Yanti ..." kataku.
"Emmm ..." jawab Yanti singkat.
"Saiki gantian yo ... (Sekarang gantian yah)" kataku.
"Gantian yo opo? (Gantian gimana?)" tanya Yanti.
"Hmmm ... ngene ... saiki gantian aku ... teko mau Yanti wis delok manukku mbek endokku ... sek dielus-elus maneh ... saiki gantian aku seng delok tempik'e Yanti (Hmmm ... gini ... sekarang gantian aku ... dari tadi Yanti dah liat burungku ama buah zakarku ... dan dielus-elus lagi ... sekarang gantian aku yang liat memek Yanti" kataku tanpa basa-basi.
"Emoh mas Anton ... isin aku ... ojok mas Anton ... (Ngga mau mas Anton ... malu aku ... jangan mas Anton)" tolak Yanti.
Penolakan Yanti yang setengah hati itu membuatku makin penasaran dan makin bernapsu. Aku beranjak dari ranjang, dan memaksa lembut Yanti untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjangku. Setelah berhasil merebahkan tubuhnya Yanti langsung bertanya.
"Mas Antonnn ... kate diapakno aku? (Mas Antonnn ... mau diapain aku?)" tanya Yanti pasrah.
"Menengo wae Yanti ... ora aku apak-apak'no kok ... mek arep delok tempik'e Yanti ... ora adil lek teko mau manukku tok seng didelok (Diam aja Yanti ... ngga bakalan aku apa-apain kok .. cuman pengen liat memek Yanti aja ...ngga adil kalo dari tadi burungku saja yang diliat)" kataku bohong. Padahal dibalik benakku banyak hal yang aku ingin lakukan terhadap Yanti, terutama terhadap tubuhnya.
Aku sekap roknya, dan aku tarik celana dalam dibalik roknya. Yanti berusaha menahannya, tapi usahanya sia-sia, karena dia menahannya dengan setengah hati alias tidak dengan sekuat tenaga. Kelakuan Yanti ini seperti lampu hijau untukku. Seakan-akan pasrah saja mau diapain olehku.
Setelah berhasil melepas celana dalamnya, aku tarik roknya ke atas perutnya, agar supaya aku bisa melihat jelas memeknya. Secara reflek Yanti menutup memeknya dengan tangannya.
"Wes mas Antonnn ... isin tenan aku ... (Udahan mas Antonnn ... malu banget aku ...)" kata Yanti.
"Durung Yanti ... ojok mbok ditutupi tok tempik'e ... ora ketokan ... (Belon Yanti ... jangan ditutup terus dong memeknya ... ngga keliatan)" kataku protes.
Aku kemudian tarik tangannya yang sedang menutupi memeknya. Yanti langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya, dan kedua pahanya menyilang. Yanti masih terus berusaha menyembunyikan memeknya dariku. Bisa aku maklumi perasaan malu yang sedang Yanti alami. Aku mencoba merayu dan menyakinkan Yanti apa adanya.
"Ojok isin-isin Yanti ... ora ono sing ndelok kok ... men aku tok wae ... (Jangan malu-malu Yanti ... ngga ada siapa-siapa yang bisa liat kok ... cuman ada aku saja ...)" rayuku lagi.
Kini Yanti mulai pasrah, dan kedua pahanya yang tadinya menyilang, sekarang sudah mulai kendor. Segera saja aku ambil kesempatan ini untuk mengendorkan pertahanan Yanti. Setelah aku berhasil membuka selangkangan Yanti ... alamak ... aku langsung menelan ludah. Memek Yanti begitu indah dan subur ditumbuhi oleh jembut-jembut yang masih lembut. Aku yakin jembut-jembut ini tidak pernah sekalipun Yanti cukur sejak pertama kali tumbuh, sehingga masih tampak halus lembut.
Kucoba lagi membuka selangkangan Yanti lebih lebar lagi, aku ingin sekali menemukan biji etil Yanti. Aku merasa kesulitan menemukan biji etil Yanti dengan mata terlanjang. Ketika aku mencoba membuka bibir memek Yanti untuk menemukan biji etilnya, Yanti langsung protes.
"Mas Anton ... ojok mas ... (Mas ... jangan mas ...)" pinta Yanti. Aku semakin gemas dengan nada penolakan pasrah Yanti.
Aku tidak mengubris permintaan Yanti, dan semakin gencar bergerilya mencari biji etilnya. Ternyata tidak susah menemukan biji etilnya dengan mencari pakai tangan. Aku mainin biji etilnya dengan gemas.
"Mas Anton ... wes mas ... uisin tenan aku ... (Mas Anton ... udahan mas ... malu banget aku)" mohon Yanti.
Otakku sudah gelap, dan tetap memainkan biji etilnya. Ternyata tidak perlu memakan waktu lama untuk membuat memek Yanti basah. Mungkin ini pertama kalinya Yanti merasakan nafsu birahi alias horny. Dia seperti tidak tau harus bagaimana menghadapi situasi saat itu. Kedua tangan tidak lagi menutup wajahnya. Tangan kanannya bersembunyi di balik bantal, dan tangan kirinya meremas guling. Yanti menggigit bibir bawahnya, seolah-olah menahan geli. Tidak kudengar suara desahan dari mulut Yanti, tapi nafasnya kini sudah berubah menjadi memburu. Aku berasumsi bahwa Yanti masih belum bisa atau belum terbiasa mendesah.
"Yanti ... tempik mu wis buasah tenan saiki ... (Yanti ... memekmu dah basah banget sekarang)" pujiku.
"Masss ... masss ... wes masss ... Yanti mbok opok'no ... jarene mbek delok tok ... saiki kok di dolen tempik ku (Masss ... masss ... udahan masss ... diapain Yanti ... katanya cuman mau liat aja ... sekarang kok dimainin memekku)" protes Yanti pasrah.
"Aku wes kesengsem karo tempikmu iki ... gemesi wae ... tak elus-elus malah dadi buasah ... (Aku dah jatuh cinta ama memekmu ... bikin gemes aja ... dielus-elus malah jadi basah) ... " kataku sambil bercanda.
Belum selesai aku melanjutkan kalimatku, Yanti secara reflek tiba-tiba menjerit "Mas Antonnn ... massssss ...". Yanti orgasme di atas ranjangku.
Aku biarkan Yanti mengambil nafas dulu biar sedikit tenang.
"Yanti sek tas mau kok bengok ... loro tah? (Yanti barusan aja kok teriak ... sakit?" tanyaku pura-pura bego.
"Ora loro mas ... sek tas-an Yanti koyok kesetrum ... rasa'e koyok nang surgo ... uenak tenan ... atiku saiki sek dek-dekan (Ngga sakit mas ... barusan Yanti kayak kena setrum ... rasanya seperti di surga ... enak banget ... jantungku sekarang masih deg-degan)" jawab Yanti.
Kini saatnya giliranku untuk orgasme. Kontolku sudah sejak tadi tegang melihat kelakuan Yanti. Pekerjaanku masih belum tuntas. Aku bingung apa yang harus aku katakan ke Yanti bahwa aku ingin menyodok kontolku ini ke dalam memeknya yang masih perawan itu.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak bertanya atau berkata apapun. Aku mencoba untuk langsung main terobos saja. Aku kembali membuka selangkangan Yanti, dan mencoba mengarahkan kontolku ke mulut memeknya. Yanti protes lagi.
"Mas Anton arep opo? (Mas Anton mau apa?)" tanya Yanti heran.
"Oh ... aku gelem kesetrum sisan ... koyok Yanti seng mau (Oh ... aku juga mau kesetrum ... kayak Yanti tadi)" jawabku spontan.
"Lah ... terus laopo manuk'e mas kate mlebu nang tempikku? (Lho ... trus kenapa burung mas mau masuk ke memekku?)" tanya Yanti heran.
Yanti benar-benar masih bau kencur di dalam urusan seperti ini. Mungkin tidak ada orang yang pernah mengajarinya teori tentang hubungan seks atau biasanya disebut dengan hubungan pasutri (pasangan suami istri).
"Aku baru iso kesetrum lek manukku mlebu nang tempikmu (Aku baru bisa kesetrum kalo burungku masuk ke memekmu)" jawabku gombal.
"Ojok mas ... engkuk loro ... jarene wong-wong (Jangan mas ... nanti sakit ... katanya orang-orang)" katanya.
"Ojok wedhi Yanti ... tak mlebu pelan-pelan wae ... tak jamin ora loro (Jangan takut Yanti ... dimasukin pelan-pelan aja ... dijamin ngga sakit)" rayuku.
Yanti diam saja dan pasrah.
Aku kemudian mengarahkan ujung penisku ke bibir vagina/memek Yanti. Yanti memejamkan matanya, dan kini giginya kembali menggigit bibir bawahnya.

AGEN POKER TERPERCAYA - Tangan kananku memegang pangkal penisku agar batang kontolku tegak dengan mantap, dan tangan kiriku berusaha membuka bibir vagina Yanti, supaya aku bisa melihat lubang memeknya. Karena Yanti masih perawan, ngga mudah untuk menembuh pintu masuk gadis perawan. Hal ini sudah aku alami sekali dengan pacar lamaku. Aku ngga ingin melihat Yanti nantinya menangis seperti yang dialami oleh mantan pacarku yang dulu, setelah aku paksa masuk batang kontolku ke lubang memeknya yang masih perawan.
Pertama-tama aku basahi terlebih dahulu ujung penisku dengan air ludahku biar menjadi pelumas sementara, kemudian aku dorong masuk ujung penisku kira-kira sedalam 2 centi. Setelah berhasil masuk kira-kira kedalaman 2 centi, aku diam sejenak, kulihat Yanti sedikit meringis menahan perih.
"Perih Yanti?" tanyaku iba.
"Rodok perih mas (Rada perih dikit mas)" jawab Yanti yang kini matanya kembali terbuka memandangku.
"Tak mlebu alon-alon yah ... lek perih ngomong'o ... ojok meneng ae ... (Aku masukin pelan-pelan yah ... kalo perih bilang aja ... jangan diam aja) ..." suruhku.
Suasana kamarku makin panas saja rasanya. Aku lepas bajuku, sehingga kini aku sudah terlanjang bebas. Kondisi Yanti masih lengkap, hanya roknya saja yang terbuka.
Batang penisku yang dari tadi sudah masuk 2 centi itu masih tampak keras saja. Aku kini tidak lagi memegangi batang kontolku, karena dengan menancap 2 centi saja di dalam memek Yanti dalam kondisi amat tegang, mudah untukku menembus semua batang kontolku. Tapi kini aku harus memasang taktik biar Yanti nantinya juga menikmati. Perih adalah maklum untuk gadis perawan yang sedang diperawani.
Kedua tanganku kini menahan tubuhku. Aku membungkuk dan menatapi wajah Yanti yang cantik. Yanti masih terlihat sedikit merintih karena rasa pedih yang dialaminya.
Aku menekan lagi batang penisku, masuk sedikit, kira-kira setangah sampai 1 centi. Yanti meringis lagi.
Aku mainkan pinggulku maju dan mundur agar batang penisku maju mundur di dalam liang memek Yanti. Batang kontolku cuman mentok sampai kedalaman kira-kira 3 centi. Tapi aku terus bersabar sampai nanti tiba nanti saatnya yang tepat. Aku teruskan irama maju mundur batang kontolku di dalam memek Yanti.
Perlahan-lahan suara rintihan Yanti semakin memudar, dan wajah Yanti tidak lagi merintih. Ujung penisku terasa basah oleh cairan yang kental. Aku yakin cairan ini bukan air liurku yang tadi, melainkan cairan murni dari memek Yanti.
Sekarang batang kontolku bisa masuk perlahan-lahan lebih dalam lagi, dari 3 centi maju menjadi 4 centi, kemudian dari 4 centi masuk lebih dalam lagi menjadi 6 centi.
"Sek perih Yanti? (Masih pedih Yanti?)" tanyaku. Yanti menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak lagi sakit.
Napas Yanti kini kembali memburu dan terengah-engah, dan tidak lagi menggigit bibir bawahnya. Tangan kanannya meremas sarung ranjangku dan tangan kirinya meremas selimutku.
Goyangan pinggulku aku percepat sedikit demi sedikit, memberikan sensasi erotis terhadap memek Yanti. Dalam sekejap kini aku bisa membuat batang kontolku kini terbenam semuanya di dalam lubang kenikmatan milik Yanti.
"Sek perih Yanti? (Masih pedih Yanti?)" tanyaku sekali lagi. Yanti kali ini tersenyum malu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.
"Tempik mu wis uenak maneh? (Memekmu dah enakan lagi?)" tanyaku bercanda. Yanti mengangguk.
"Yanti ... buka en klambimu ... mosok ga kroso panas tah? ... buka en ae cekno adem (Yanti ... buka dong bajumu ... masa ngga merasa panas? ... buka aja biar sejuk)" kataku. Aku sebenarnya ingin memperawani Yanti dalam keadaan benar-benar terlanjang.
Nanti menurut saja, dan kemudian dia melepas kaos bersama BH-nya, dan masih membiarkan roknya, karena batang kontolku masih sibuk menari-nari di dalam lubang memeknya. Tampak payudara Yanti yang merekah dengan ukuran 32C menurut tafsiranku. Tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Pas untuk ukuranku. Puting susunya berwarna coklat gelap. Typical atau khas payudara wanita asli Indonesia. Melihat puting susunya yang menantang seperti itu, membuatku gemas rasanya. Aku mencubit sambil memelintir puting susunya, dan Yanti protes atas tindakanku tersebut.
"Masss ... loro masss ... (Masss ... sakit masss ...)" protes Yanti lembut. Aku pun kemudian senyum padanya, dan langsung menghentikan tindakanku tersebut.
Aku merasa sudah lama aku menggenjot tubuh Yanti siang itu. Tapi aku masih belum menampakkan tanda-tanda akan datangnya klimaksku. Aku sejak tadi berpikir antara iya atau tidak nantinya aku memuncratkan air maniku ke dalam memeknya. Sejujurnya aku berkeinginan hati untuk menyirami memek Yanti dengan air maniku, tapi aku juga rada kuatir akan konsekwensinya bila terjadi apa-apa dengannya, alias hamil nantinya.
Nafas Yanti semakin memburu saja, tapi wajahnya tampak makin gelap saja. Darah Yanti seakan-akan memanas dan terkumpul di atas kepalanya. Kali ini Yanti tak kuat untuk menahan genjotan-genjotan dan gesekan-gesekan nikmat yang diberikan oleh batang kontolku. Mulut Yanti kini tak terkontrol. Untuk pertama kalinya mulut Yanti mendesah atau merintih basah.
"Uhh ... ohhh ... masss ... masss ... kerih (geli) masss ..." rintih Yanti.
"Aku kerih sisan Yanti ... Yanti wis arep ngoyo? (Aku geli juga Yanti ... Yanti sudah mau pipis?)" tanyaku penasaran melihatnya sudah seperti cacing kepanasan. Leher Yanti sudah mulai berkeringat. Sekujur badanku juga tidak kalah keringatnya. Semakin berkeringat, semakin seru saja aku menggagahi tubuh Yanti.
Seperti tau apa yang aku maksud dengan kata 'pipis', Yanti pun menganggukkan kepalanya. Yanti sudah akan memasuki tahap orgasme yang kedua kalinya.
Tidak sampai hitungan 2 menit, Yanti tiba-tiba memekik sambil tangan kanannya meremas biceps-ku.
"Masss ... ampunnn masss ... kerih mbanget ... arep ngoyo ketok'e ... aahhh ... (Masss ... ampunnn masss ... geli banget ... ingin pipis rasanya ... ahhh ...)" pekik Yanti dengan tangan kanannya yang masih meremas biceps-ku.
Tidak salah lagi, Yanti telah mencapai orgasme keduanya. Memeknya semakin basah saja. Aku berhenti menggenjotnya dan mendiamkan batang kontolku tertanam dalam-dalam di dalam memeknya yang basah nan hangat. Kurasakan setiap denyutan daging-daging di dalam memek Yanti.
Setelah buruan nafasnya mereda, aku cabut batang kontolku keluar dengan maksud untuk melepas roknya yang masih menempel di tubuhnya. Aku ingin melihatnya bugil tanpa busana apapun. Saat kutarik batang kontolku, aku melihat sedikit bercak darah di tengah-tengah batang kontolku, dipangkal kontolku, dan di daerah bulu jembutku. Kuperawani sudah Yanti, dan ini adalah bukti keperawanan Yanti yang telah aku renggut darinya.
Yanti kini bugil tanpa selembar kain apapun. Aku kembali memasukkan batang kontolku ke dalam memeknya. Masih terasa basah liang memek Yanti.
"Yanti ... saiki aku sing kate ngoyo ... siap-siap yo (Yanti ... sekarang aku yang harus pipis ... siap-siap yah)" kataku.
Yanti seperti tidak mengerti apa yang aku katakan, tapi kepala mengangguk saja (hanya menurut saja). Aku kembali menggenjoti liang memeknya lebih cepat dari biasanya. Kupercepat setiap hentakan-hentakan, dan bisa kurasakan kenikmatan gesekan-gesekan terhadap daging-daging di dalam memek Yanti. Memberikan sensasi yang luar biasa dasyatnya.
Wajah Yanti kembali memerah, dan kini nafasnya kembali memburu lagi. Kali ini Yanti sudah tidak malu-malu lagi untuk mendesah dan merintih nikmatnya bercinta.
"Yanti ... kepenak temenan nyenuk karo Yanti ... tempik-mu gurih tenan (Yanti ... enak/senang banget ngentot ama kamu ... memekmu gurih banget)" pujiku sambil terus menggenjot memeknya.
"Masss Anton ... masss ... aku arep ngoyo maneh ... ahhh masss ... (Masss Anton ... masss ... aku pengen pipis lagi ... ahhh masss ...)" desah Yanti.
"Iku jenenge arep teko Yanti ... ora arep ngoyo (Itu namanya mau datang Yanti ... bukan mau pipis)" jawabku sambil tertawa renyah dan Yanti pun tersenyum bingung. Mungkin baginya istilah 'datang' masih terasa aneh.
Sekujur tubuhku berkeringat dan tergolong basah kuyup. Sudah berapa tetes keringatku yang jatuh di perut dan dada Yanti. Posisiku menyetubuhinya masih tetap berada di atas. Sejak tadi aku belum menyuruhnya merubah posisi.

AGEN POKER INDONESIA -  Mungkin bagiku lebih nyaman untuk Yanti digagahi dengan posisiku di atas. Yanti masih termasuk bau kencur dalam masalah beginian.
Batang kontolku makin lama terasa makin mengeras. Lahar mani di dalamnya ingin segera meletup keluar. Aku sudah tidak mampu untuk berpikir dengan akal sehat kembali. Otot-otot disekujur batang kontolku sudah tidak mampu lagi membentung lahar panas yang ingin segera menyembur keluar. Aku sudah tidak perduli lagi dengan rasa kuatirku tadi. Aku hanya ingin menyemburkan lahar panas ini secepat mungkin. Isi otakku sudah gelap rasanya.
"Yanti ... aku arep teko iki ... ora iso di tahan maneh ... saiki Yanti ... saikiii ... Yantiii ... (Yanti ... aku mau datang nih ... ngga bisa ditahan lagi ... sekarang Yanti ... sekaranggg ... Yantiii)" aku mengerang keras diiringi oleh semburan lahar panas dari batang kontolku yang mengisi semua liang memek Yanti. Semburan panas dari batang kontolku mendapat sambutan hangat dari Yanti. Aku memeluk erat tubuh Yanti, dan Yanti membalas memelukku sambil memekik memanggil namaku. Aku hanya dapat menduga bila Yanti mendapatkan orgasme-nya yang ketiga kali. Batang kontolku berkali-kali memuntahkan lahar panasnya di dalam lubang kenikmatan milik Yanti. Mungkin sekarang liang memek Yanti penuh sesak oleh lahar maniku.
Aku diam sejenak, mengatur nafasku kembali. Tubuhku masih menindih tubuh Yanti. Kini semua keringatku bersatu dengan keringat Yanti. Aku memeluk Yanti, sambil menciumi lehernya. Batang kontolku masih menancap di dalam memek Yanti. Aku masih belum ingin mencabutnya sampai nanti batang kontolku sudah mulai meloyo.
"Yanti ... terima kasih ... " bisikku dalam bahasa Indo. Yanti hanya diam saja. Tak lama kemudian, aku mendengar Yanti menyedot ingusnya. Ternyata mata Yanti tampak berkaca-kaca. Aku menduga kuat Yanti ingin sekali menangis, dan tampak penyesalan di wajahnya. Melihat tingkah laku Yanti, aku berusaha memberinya comfort (kenyamanan), dan rayuan agar membuatnya lega atau tidak sedih kembali. Aku mengatakan kepada Yanti bahwa ini adalah rahasia kita berdua, dan mengatakan bahwa aku sayang kepadanya. Aku berjanji padanya bahwa ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya aku menyetubuhinya. Yanti begitu menurut dengan kata-kataku dengan polos dan lugu.
Aku sedikit ada rasa penyesalan telah memperawani gadis cantik dan imut seperti Yanti. Aku meminta maaf kepadanya karena aku khilaf dan tidak dapat menahan keinginanku itu karena sejak lama aku memantau dan melihat sosok dirinya dari kejauhan. Begitu dekat dengannya, aku tidak mampu lagi menahan nafsu birahiku.
Selama liburan musim panas tersebut, aku sering sekali mencuri-curi waktu dan tempat untuk bersetubuh dengan Yanti. Sejak pertama kali memperawaninya, agak susah untukku untuk menggagahi tubuh nikmatnya lagi. Yanti selalu menolak dengan alasan takut sakit atau apa gitu. Tapi dasar lelaki yang penuh dengan akal muslihat, aku tetap berhasil menikmati tubuhnya dan memeknya berkali-kali.
Untung saja, makin lama Yanti semakin menyukai berhubungan badan denganku. Banyak teknik yang aku ajarkan kepadanya, dari BJ, HJ, dan posisi bercinta yang lain (doggy style, woman on top, gaya menyamping, dll). Aku kadang meminta Yanti memberikan BJ atau HJ di ruang keluarga sambil aku menonton TV disaat tidak ada orang di rumah.
Sejak saat itu pula, aku selalu memakai condom untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Aku tidak ingin aib ini sampai tercium oleh anggota keluargaku yang lain.
Sudah sering kali aku bermain cinta dengan Yanti di liburan musim panas ini. Aku sempat mengganti tanggal pesawatku kembali ke Melbourne agar aku bisa lebih lama di Indonesia. Aku kembali ke Melbourne untuk melanjutkan studiku lagi sekitar akhir Februari. Semenjak kembali ke Melbourne lagi, aku kangen dengan Yanti, dan rindu bercinta dengannya. Kadang-kadang aku menelpon rumah di waktu siang hari (waktu Indonesia) untuk mengobrol dengan Yanti. Dan seputar obrolan kami adalah tentang 'gituan' aja.
Studiku tinggal 1 semester lagi. Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan studiku ini, agar aku bisa kembali ke Indonesia bertemu kembali dengan Yanti. Sebenarnya aku sendiri tidak tau bagaimana masa depanku dengan Yanti. Tapi aku berkeinginan untuk tetap tinggal di Malang, paling tidak melanjutkan atau bekerja di kantor perusahaan papa. Dengan ini aku bisa senantiasa dekat dengan Yanti. Biarlah nanti waktu yang akan menentukan nasibku dengan Yanti.

Apakah anda sudah memiliki user ID  untuk bermain Poker ?  Jika belum segera hubungi Customer Service Online kami di WWW.AGENPOKER.COM dan Customer Service 24 jam kami akan melayani anda dengan ramah mengenai proses registrasi dan deposit. Jika anda tertarik untuk mendaftar, anda bisa mengisi kode berikut untuk memenuhi kolom referal http://www.agenpoker.com/ref.php?ref=VIVI303

Wednesday, November 18, 2015

Berselingkuh Dengan Tante Agenpoker - Agen Poker Domino Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER.COM

Agen Poker Domino Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER.COM


Agen Poker Resmi Indonesia




AGEN POKER - Aku menikah dengan usia yang relatif muda, yaitu 25 tahun dan istriku 22 tahun. Aku bersyukur bisa memperoleh istri yang cantik dan tubuh yang seksi dengan dada yang menantang dan pantat yg sekal, tapi bukan itu alasanku memilih dia tapi kebaikan dan ketaatannya dalam beribadah yang membuatku yakin dengan pilihanku.
Karena menikah dengan usia muda dan karir masi pemula membuat kami belum mampu membeli rumah sendiri, sehingga kami pun ngontrak rumah dipinggiran kota. Itu pun tidak lama karena mertuaku menyuruh kami tinggal bersama mereka. Karena berbagai pertimbangan kami pun setuju tinggal di rumah mertuaku.
Mertuaku tinggal di rumah berdua, dan mereka mempunyai toko yang terletak tidak jauh dari rumah. Mereka mempunyai 2 karyawan wanita sebagai penjaga toko, dan 2 karyawan laki-laki berusia remaja (sekitar 18 tahun) bernama yusup.
Ibu mertuaku masih relatif muda yaitu 40 tahunan dengan badan agak gemuk dan dada yang besar. Wajahnya masih cantik untuk ukuran usianya. Bapak mertuaku juga masih terlihat tegap.
Tidak ada yang aneh hingga peristiwa itu terjadi. Saat itu aku pulang siang dari kantor karena kepalaku sakit sekali. Tiba di depan pintu rumah, terlihat rumah sangat sepi. Karena memiliki kunci aku bisa masuk dengan leluasa. Langsung menuju kamarku, tetapi ketika aku hendak melewati dapur terdengar suara-suara mencurigakan dari dapur.
dengan mengendap-endap aku menuju dapur. Dadaku langsung berdegup kencang melihat pemandangan yang kulihat.
Kulihat ibu mertuaku meronta-ronta dalam pelukan pria yg aku tau itu bukan bapak mertuaku. Tadinya aku ingin bertindak menghajar laki-laki itu, tapi entah kenapa aku hanya terdiam saja.
Laki-laki itu dengan kasar meremas dada mertuaku yang saat itu memakai daster dengan tali yang kecil hingga ketiaknya terlihat. Tangan itu kemudian menurunkan tali dan BH sehingga menyembul dada besar mertuaku. Tangan laki-laki yang semula meremas berganti memilin puting susunya.

Agen Poker Domino Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER.COM

AGEN POKER ONLINE - "Jangan Sup, ibu kan udah tua", kudengar mertuaku bicara ditengah desahannya, dan tangannya mendorong pelan dada laki-laki itu, yang bernama yusup! Ya yusup, karyawannya yang masih muda, aku takjub berani juga anak itu!, batinku.
"habis, bodi ibu seksi bgt, apalagi toketmu. Jadi ga tahan pengen ******* ibu' ujar yusup, sambil tangannya kini bergerak menyingkap kan daster, sehingga paha putih dan cd krem berenda mertuaku terlihat jelas.
Yusup kemudian berlutut dan memelorotkan cd mertuaku ke bawah sehingga muncul bulu-bulu jembut mertuaku yang rimbun. Yusup langsung melahap vagina mertuaku yang terpampang, menjilat dan mengigit kecil itil mertuaku. Nafas mertuaku semakin tak beraturan, matanya merem melek, kemudian badan bergetar, sepertinya dia sedang memperoleh kenikmatan yang dahsyat.
Tiba-tiba mertuaku menarik kepala yusup. "cepet masukin sebelum suamiku datang!" bisik mertuaku. Yusup dengan cepat membuka celana jeansnya dan sedikit menurunkan cdnya hingga mengacung batang ****** yang ingin segera masuk ke sarangnya.
Mertuaku tampaknya tidak ingin buang-buang waktu, dia segera mendorong yusup hingga terlentang, batang kejantanan yusup digenggam kemudian dijilat dan dikulum sebentar. Tak lama kemudian mertuaku naik ke badan yusup lalu meraih ****** yusup kemudian diarahkan ke lubang vaginanya. Bless... ****** yusup pun amblas ke dalam.
Bagaikan joki yg sedang menunggangi kuda, mertuaku bergerak liar menggoyang pinggulnya, sementara yusup mendesis keenakan. Hingga 'saya mau keluar bu' desis yusup, "ibu juga! ... Aaakh..." kedua tubuh mereka mengejang dan "croot...croot..". Mereka terdiam beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang ada. Kemudian ambruk bersama-sama."
"ayo cepat kamu balik lag ike toko, nanti suamiku nyariin!".. Kata mertuaku perlahan pada yusup. Yusup pun bergegas merapikan celana Kemudian mencium kening mertuaku "terima kasih ya bu...". Mertuaku tak menjawab, hanya terdiam mengumpulkan nafas setelah pergumulan tadi. Yusup pun segera keluar, saat mertuaku masih terlentang dengan daster acak-acakan. Sementara aku juga bengong dan dalam keadaan horny berat.

AGEN POKER ANDROID - Pikiranku berkecamuk, antara horni pengen ikut ******* mertuaku dengan kesetiaanku pada istriku. Sementara ibu mertuaku masih merapikan bajunya yang acak-acakan. Dengan gemetaran karena pikiran yang campur aduk, aku mendekati mertuaku, "birahiku juga harus disalurkan!, aku akan ******* ibu mertuaku" tekadku saat itu, tapi dasar sial, saat aku sudah mau bergerak. Pintu depan terbuka dan terliat bapak mertuaku datang masuk ke rumah. Membuyarkan keinginanku.
Ibu mertuaku ternyata pandai juga bersandiwara, dengan suaminya dia berlaku seolah tidak terjadi apa-apa, 5 menit yg lalu!. Aku langsung masuk ke kamar dengan kepala yang makin pusing, kepala atas dan bawah.
Sejak peristiwa itu, aku jadi semakin memperhatikan ibu mertuaku. Gak kusangka, dibalik ketelatenannya mengurus suaminya ternyata dia tega menghianatinya dengan perselingkuhan, yang entah sudah berapa kali dilakukan. Berapa kali? Dengan siapa aja?
Pertanyaan ini lebih menarik untuk kucari tau ketimbang aku ikut menghianati istriku dengan berselingkuh dengan ibu mertuaku.
Diam-diam aku membeli perlengkapan kamera yang kupasang dibeberapa tempat strategis dirumah mertuaku, kupasang juga alat perekam sehingga aku tetap bisa melihat apa yang terjadi ketika aku di kantor.Ternyata bermanfaat juga.
Kejadian pertama terjadi didapur lagi, dan terbilang sangat nekat. Siang itu ibu mertuaku sedang menyiapkan makan siang u/ suaminya. Seperti biasa, ibu mertuaku menggunakan daster yang sangat tipis, berwarna kuning tanpa menggunakan bra, sehingga toket besarnya terlihat mengacung besar dengan lingkar puting coklat yang tercetak membayang. Bagian ketiaknya terlihat longgar sehingga dari samping sering terlihat gundukan toket yang sangat menggairahkan.
Sementara itu tampak yusup sedang membantu bapak mertuaku membetulkan kabel lampu yg putus karena digigit tikus. Terliat Ibu mertua dan yusup, sering curi-curi pandang dan melemparkan isyarat-isyarat khusus disaat bapak mertuaku lengah. Seperti ibu mertuaku mengurut-ngurut mentimun dengan gerakan seolah-olah mengocok penis, yang dibales yusup dengan gerakan tangan seperti meremas toket. Sepertinya mereka sudah sangat horni. Tanpa diduga, bapak mertuaku bergerak pergi ke kamar mandi, mungkin karena ingin buang hajat, dan biasanya bisa berlangsung hingga lebih 15 menit.
Sesaat bapak mertuaku masuk ke kamar mandi, yusup bergerak cepat mendekati ibu mertuaku dan memeluknya dari belakang.
Bagai orang kelaparan mereka berciuman dengan buas, tanpa peduli bahwa bapak mertuaku berada dikamar mandi yang terletak hanya beberapa meter dari tempat mereka.
Tangan kanan yusup bergerak masuk ke balik daster melalui bagian ketiak yang longgar kemudian meremas toket yang sudah dari tadi menggodanya.

AGEN POKER TERBAIK - Tangan kirinya menelusup ke selangkangan dan menggosok-gosok memek mertuaku yang sudah sangat basah.
Mendapat serangan seperti itu, ibu mertuaku melenguh kenikmatan, tangannya bergerak merangkul leher yusup dan mendorong kepalanya hingga mereka bisa berciuman lebih ganas.
Ibu mertuaku berbalik menghadap yusup dan bersandar pada meja dapur.
Mereka kembali berciuman dengan ganas, toket mertuaku tersembul yang langsung disedot dan digigit-gigit kecil oleh yusup, sementara tangan satunya lg memilin-milin puting.
Tangan mertuaku bergerak ke arah selangkangan yusup dan meremas tonjolan batang dibalik celana katunnya. Kemudian membuka ruitsletingnya, merogoh cd dan menggenggam batang kejantanan yusup, kemudian mengocoknya secara perlahan.
Mengetahui waktu yang dimiliki tidak banyak, ibu mertuaku tidak mau banyak membuang waktu, setelah Yusup memelorotkan cd mertuaku, dia segera mengarahkan rudalnya ke nonok mertuaku. Bless... Mulut mertuaku menganga menerima desakan batang yusup yang keras dan hangat pada vaginanya yang sudah basah. Yusup mendiamkan kontolnya diam sesaat merasakan remasan vagina mertuaku dan kemudian memompanya secara liar, sebelah kaki mertuaku melingkar ke badan yusup, memberikan akses penetrasi yang leluasa. Mulut yusup sibuk bergantian mencium bibir mertuaku dan menghisap serta mengigit-gigit toked montok mertuaku.
Tangan yusup meremas gemas toket yang tetap diiringi gerakan maju mundur pantatnya untuk melesakkan batangnya dan memberinya kenikmatan duniawi tanpa mempedulikan bapak mertuaku, suami dari wanita yang sedang ia setubuhi berada di kamar mandi yang tak jauh dari tempat mereka *******.
Kini mereka telah merubah posisi, ibu mertuaku menghadap ke meja, sementara yusup menyodoknya dari belakang, dengan posisi itu, toket mertuaku menggantung bebas dan bergoyang-goyang seiring dengan pompaan yusup dari belakang. Dengan posisi itu tidak berlangsung lama karena yusup kemudian mengejang dan meningkatkan pompaanya, hingga akhirnya ambruk dengan menyemprotkan sperma yang berceceran dilantai.
Mereka terdiam sesaat, yusup masih memeluk tubuh mertuaku, batangnya masih menancap, membiarkan sisa-sisa kenikmatan yang ada. Tangan yusup masih meremas-remas pelan toket mertuaku kemudian mereka berciuman mesra layaknya pasangam kekasih.


AGEN POKER TERPERCAYA - Tak lama, mereka sadar bahwa bapak mertuaku akan segera keluar, mereka buru-buru merapikan pakaian dan rambut, tak lupa melap sisa cairan senggama yang berceceran tadi.
Bapak mertuaku memang punya kebiasaan BAB yang lama, seperti saat itu, dia melewatkan persetubuhan kilat istri dengan karyawannya.Sementara aku hanya berani melihat dan menikmati itu semua, tanpa keberanian melaporkan ke bapak mertuaku atau mungkin ikut mencoba mencicipi ibu mertuaku yang semakin hari semakin menggairahkan dimataku.
Tetapi entah kenapa dengan hanya melihat perselingkuhan itu aku sudah cukup puas, dan dengan bantuan kamera tersembunyiku, hasratku cukup terpuaskan, berkali-kali kulihat pergumulan mertuaku dengan yusup melalui kameraku.
Perselingkuhan ibu mertuaku berlangsung berkali-kali, diantaranya sering sekali nekad.. entah mungkin mereka makin bernafsu bila resiko ketahuan makin tinggi.. Sering kulihat ibu mertuaku mengusap-ngusap batang yusup padahal suaminya sedang didepan mereka yang tengah mengerjakan sesuatu.
Berkali-kali aku berpikiran untuk memanfaatkan kameraku untuk bisa ikut mengentot mertuaku, tetapi rasa takut dan sayangku pada istriku berkali-kali itu juga menghalangi niatku. Hingga terjadinya peristiwa itu...
Seperti biasa, setiap hari sabtu-minggu aku ngga kerja dan biasanya diisi dengan kegiatan bermalas-malasan dan tidur-tiduran dikamar sambil nonton tipi. Seperti juga sabtu itu, sementara itu istriku masuk kerja.
Karena malamnya begadang nonton tipi hingga pagi hari, otomatis pagi hingga siang kuisi waktu dengan tidur. Bangun tidur, rumah dalam kondisi sepi, mertuaku mungkin sedang ditoko. Ingat mertuaku aku jadi penasaran apakah ada kejadian yang seru hari itu yang terekam dalam kameraku.
Aku mulai memainkan rekaman video dari berbagai ruangan rumahku pada hari itu. Kulihat mertuaku tidak ada, cukup mengecewakan, yang ada hanya ruangan yang kosong. Tetapi tidak lama kulihat pintu rumah terbuka dan terlihat istriku masuk ke rumah, dan ternyata dia tidak sendiri, dia bersama 3 orang lainnya, 2 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. mereka cukup kukenal sebagai teman kantor istriku. Teman wanita istriku bernama Indri dan Fitri, mereka cukup menarik, Indri agak tinggi dengan kulit putih mulus dengan dada yang padat, sementara Fitri lebih pendek tapi jauh lebih montok dengan dada berukuran ekstra. Tetapi yang paling cantik tetap istriku, dengan tinggi yang pas serta dada yang montok membuatku merasa menjadi pria yang sangat beruntung. Mereka menggunakan seragam kerja blazer dan rok span selutut kecuali istriku yang menggunakan pakaian yang menutup dari mulai rambut hingga tumit kaki.
Sementara Johan kulihat lebih pendek dari istriku dan berbadan kurus.
Tampaknya mereka sedang mendiskusikan pekerjaan mereka, istri dan kedua teman wanitanya tampak membacakan sesuatu dan Johan, satu-satunya laki-laki yang ada kebagian mengetik.
Setelah berdiskusi beberapa lama, kulihat kedua teman wanita istriku tampak pamit untuk pergi, hingga tinggal istri dan johan yang ada di ruangan itu. Aku mulai berdebar, karena menduga-duga hal yang akan terjadi selanjutnya.
Johan masih sibuk mengetik, sementara istriku tampak menyiapkan minuman untuknya.
Johan tampak celingukan melihat-lihat keluar, kemudian ngomong sesuatu pada istriku. Istriku terlihat tersenyum kemudian menuju pintu rumah kemudian menutupnya!.
Jantungku makin berdebar-debar, terutama setelah kulihat istriku duduk merapat pada johan yang masih mengetik. Adegan selanjutnya membuatku terkesiap !.

AGEN POKER INDONESIA -  Johan memegang telapak tangan istriku kemudian menariknya dan menaruhnya diselangkangannya. Istriku menarik tangannya.. tetapi kulihat Johan tampaknya membujuk istriku, istriku terlihat bimbang, kemudian beranjak dari tempatnya pergi menuju kamar, ya kekamarku, dia membuka pintu sebentar kemudian menutupnya kembali. Saat itu, siang tadi aku tertidur dengan lelapnya hingga tidak menyadari yang terjadi di ruang tamu.
Dari kamar, istriku kembali ke ruang tamu tempat Johan berada. Melihat istriku datang, tampak Johan menanyakan sesuatu pada istriku dan entah dijawab apa karena aku tidak bisa mendengar suara mereka. Istriku kembali duduk disamping Johan, dan laki-laki itu mengulang kembali perbuatannya tadi, dia menarik tangan istriku kemudian mengusap-usapkan tangan istriku ke tonjolan selangkangannya!
Kali ini istriku tidak menariknya tetapi malah bergerak mengusap-usap tonjolan selangkangan Johan. Merasakan nikmat, Johan berhenti mengetik sesaat kemudian melanjutkan pekerjaannya. Gila.. Johan mengetik di laptop sementara istriku memberi servis tambahan yaitu mengusap-usap batang kejantanan Johan yang kulihat semakin menonjol seolah-olah meronta ingin dikeluarkan dari celananya.
Sesaat kemudian Johan membuka resletingnya, dan muncullah batang penis yang kulihat cukup gemuk apalgi bila dibandingkan badannya yang kurus. panjangnya tidak seberapa, bahkan bila kubandingkan masih jauh lebih besar dan panjang punyaku !
Tangan istriku bergerak mengambil bantal kursi untuk menutup penis Johan, dan meminta johan memegang bantal itu. Kemudian terlihat tangan istriku naik turun mengocok penis Johan.
Jantungku berdegup kencang dan tubuhku gemetaran melihat pemandangan itu, Istriku mengocok penis lelaki lain! bukan cuman itu dia melakukannya di rumah!!! Tak tahan dengan kocokan istriku, Johan berhenti mengetik kemudian bersandar dikursi matanya terpejam menikmati servis yang dilakukan istriku.
Tangan johan mulai bergerak, mengelus-elus punggung istriku yang masih dalam posisi duduk dan celingukan melihat-lihat keadaan mulai dari melihat ke arah jendela rumah hingga sesekali melihat ke kamarku, mungkin untuk memastikan aku tidak bangun.
Tidak berhenti hanya dipunggung, tangan johan bergerak ke depan kemudian mengelus-elus toket istriku dari luar bajunya. Istriku terlihat sesekali merem kemudian membuka matanya untuk kembali melihat-lihat keadaan.
Tangan johan sudah bergerak masuk ke balik bajunya, kemudian merogoh toket dibalik Bra dan meremas-remasnya. Karena kesulitan, Johan bergerak membuka kancing kemeja seragam PNS istriku, istriku semula menahan tetapi kemudian Johan membisikan sesuatu hingga akhirnya membebaskan Johan membuka 2 kancing atasnya, dan menyingkap bajunya, hingga terlihat toket istriku yg masih terbungkus bra hitam berendra sehingga tampak sangat kontras dengan toket istriku yang putih mulus.
Toket kenyal dan montok yang merupakan toket kebanggaanku itu kini diremas-remas oleh lelaki lain!!!
Karena ukurannya yang besar, serta tersumpal oleh baju, toket itu tampak membusung dan sangat menggairahkan!.. dan johan pun tau itu.. tidak sabar dia segera membuka kait bra istriku yang terletak didepan. sehingga toket istriku menyembul dengan bebasnya.
Johan langsung menjilat dan menghisap toket istriku, sementara penisnya masih dikocok oleh tangan mulus istriku. Kedua toket istriku dijilat dan dihisap secara bergantian.
Istriku semakin merem keenakan, perasaan waspada yang tadi ada sepertinya sudah hilang, dia sudah tidak peduli lagi dengan sekelilingnya. Bibir merahnya merekah karena kenikmatan yang diperolehnya, yang kemudian disambut oleh deep kiss oleh Johan yang diiringi oleh permainan lidah. Ciuman mereka cukup intens dan lama.
Tangan johan bergerilya ke arah selangkangan istriku, mengusap-usapnya, istriku terlihat sangat menikmati usapan johan, terlihat dari pahanya yang dibuka semakin melebar.Istriku kemudian mendorong badan Johan hingga bersender ke kursi, kemudian istriku menunduk ke arah penis johan yang semakin tegak berdiri. yang kemudian tenggelam dalam lumatan mulut istriku. Istriku mengulum, menghisap dan menjilati penis gemuk dan hitam Johan, seolah-olah menikmati penis itu. Padahal denganku, suaminya, istriku sering sekali menolak untuk menghisap penisku.
Istriku bergerak naik ke atas badan johan kemudian menyingkapkan rok panjangnya ke ujung paha hingga terlihat jelas paha putih mulus istriku, kemudian dia melucuti sendiri celana dalam yang dia pakai. Penis johan digenggam dan dikocok perlahan kemudian diarahkan menuju liang vaginanya.
Istriku menggesek-gesekan penis itu ke mulut vaginanya, seolah-olah vaginanya gatal dan penis itu digunakan untuk menggaruknya. dan kemudian bless.. penis itu amblas masuk seluruhnya ke vaginanya, kemudian terdiam, badan istriku melengkung menikmati gesekan penis johan kedalam vaginanya.
Johan yang bersender di kursi dengan rakusnya melahap kedua bukit kembar istriku, sementara tangannya memegang pantat istriku untuk menaik turunkan pantat itu. Istriku pun menyambutnya dengan menaik-turunkan pantatnya, hingga terlihat jelas sodokan-sodokan ****** johan yang dibenamkan ke dalam memek istriku. sementara tangan istriku bertahan pada senderan kursi sehingga keseimbangan badannya terjaga.
Istriku bergerak makin cepat begitupun Johan yang menaikan pantatnya, menginginkan penisnya terhujam makin dalam ke liang memek istriku.
Gerakan naik turun pantat istriku untuk mengeluar masukan ****** Johan yang diiringi juga dengan gerakan johan, berlangsung semakin cepat dan cepat..!
hingga mereka akhirnya terdiam dengan membenamkan kelamin mereka semakin dalam.. untuk menjemput puncak kenikmatan..!
Istriku masih berada diatas johan untuk beberapa saat mereka berciuman...
Pandanganku berkunang-kunang, kepalaku terasa berat melihat Istriku yang selama ini kubanggakan, baru saja bersetubuh sedang dengan lelaki lain.
     
Agen Poker Domino Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER.COM

Apakah anda sudah memiliki user ID  untuk bermain Poker ?  Jika belum segera hubungi Customer Service Online kami di WWW.AGENPOKER.COM dan Customer Service 24 jam kami akan melayani anda dengan ramah mengenai proses registrasi dan deposit. Jika anda tertarik untuk mendaftar, anda bisa mengisi kode berikut untuk memenuhi kolom referal http://www.agenpoker.com/ref.php?ref=VIVI303

Tuesday, November 17, 2015

Petualangan Bercinta Dengan Dokter Agen Poker - Agen Poker Domino Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER.COM

Agen Poker Domino Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER.COM


Agen Poker Resmi Indonesia

Agen Poker Domino Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER.COM



AGEN POKER - Ini kisah yang terjadi di desa xxx, sebuah desa kecil yang agak terpencil. Akses jalanannya tidak seperti di Jakarta sudah aspal semuanya, di sana masih tanah liat dan batu.
Orang-orangnya sederhana dan lugu. Kalau pagi mereka selalu saling menyapa dan murah senyum. Rasa gotong royong pun masih kental disini.
Mereka bermata pencaharian sebagai petani. Disana ada sawah dan ladang. Kebun buah-buahan pun ada banyak disini. kalau mau makan tinggal petik.
Disana tidak ada sekolah, orang tidak bisa mengenyam pendiidikan. Jadi kalau ada orang pintar disini, mereka puja seperti dewa. Dr. Prasetyo adalah seorang dokter umum yang dikirim kesana untuk melayani masyarakat disana. Apa yang dikatakan olehnya pasti didengarkan dan dituruti, misalnya saja seorang dokter. Jangan dokter, lulusan SD saja mereka posisikan di atas mereka.
Suatu hari di ruang praktek Dr. Pras yang sederhana seorang ibu paruh baya sedang berkonsultasi dengannya mengenai kondisi buah hatinya, seorang anak gadis yang berumur kira-2 15 tahun. Cahaya pagi yang menembus jendela kayu menunjukkan kekhawatiran di raut wajahnya. Alisnya tak henti-hentinya mengernyit setiap kali ia menceritakan keadaan anak perempuannya yang memakai jilbab warna biru sama seperti yang sedang dikenakannya. Pundak anaknya dipegani seperti seorang ibu yang takut anaknya akan lenyap kalau dilepas.
"Dok, anak saya kayaknya kurang sehat beberapa hari ini."
"Oh..gimana kondisinya apakah batuk-batuk?"
"Ya sedikit, nafsu makannya berkurang dok."
Dr. Pras mengangguk-angguk.
"Nama kamu siapa,dik?"
"Fitri, dok."
"Sudah berapa lamu kamu sakit?"
"3 hari dok...gak sembuh-sembuh...dah minum teh manis."
"Pusing-pusing gak?"
"Gak, dok."
"Sebelumnya ada makan apa, gak?"
"Makan biasa aja dok.."
"Ada jajan?"
"Paling gulali."
"Hmm...."
Dr. Pras tampak sedang berpikir untuk menganalisa kondisi Fitri.
"Ya udah kamu naik ke ranjang periksa yah...dokter periksa"
"Iya dok..."
Fitri berjalan ke ranjang periksa yang tak jauh dari situ, ia menaiki tangga kecil hingga ia bisa sampai ke atas ranjang dan tiduran.
"Di angkat ya bajunya, biar dokter bisa periksa pakai stetoskop."
Fitri mengangguk dan menarik ke atas bajunya sehingga payudaranya yang masih mengkal kelihatan.
Dr. Pras mulai menggunakan stetoskopnya dan mencoba mendegar detak jantungnya. Stetoskop itu di letakkan di dada dan dipindah-pindahkan di sekitar situ. Kadang ditaruh di atas putingnya Fitri.
"Dingin dok...," komentar Fitri.
"Tahan dikit ya..."

AGEN POKER ONLINE - Saat Dr. Pras memindahkan stetoskopnya, saat diangkat kadang pinggirannya menyenggol ujung puting Fitri. Entah sengaja atau tidak, jari kelingkingnya kadang juga menoel putingnya. Si ibu tidak bisa melihat yang dilakukan Dr. Pras sebab ia berada di belakangnya.
Fitri merasakan sesuatu yang aneh, dan pipinya berubah memerah. Tanpa disadari puting coklatnya menjadi mengeras mencuat. Kalau tertoel lagi, kakinya langsung mengapit seperti menahan sesuatu di bagian bawah situ.
"MMmm...untuk pemeriksaan selanjutnya ibu tunggu di bangku yah, saya harus melakukan tes."
"Iya dok."
Dr. Pras menarik gorden yang mengelilingi ranjang periksa. Ibu Fitri tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam.
2 menit tidak ada apa-apa. Namun setelah agak lama si ibu mulai mendengar suara-suara aneh dari dalam. Seperti anaknya sedang melenguh-lenguh..."Ah..ahh...ahhhh..."
Merasakan firasat buruk ia bangkit menyibak gordennya. Betapa terkejutnya saat ia melihat CD putrinya sudah turun setengah paha dan tangan Dr. Pras sudah berada di kemaluan putrinya. Saking kagetnya si ibu sampai tidak bisa bicara apa-apa.
"A..a..a"
"Ibu! apa yang sedang ibu lakukan, saya sedang di tengah pemeriksaan."
Si ibu tiba-tiba merasa bersalah, apakah benar ia sedang mengganggu jalannya pemeriksaan anaknya? Pikiran akal sehatnya seperti sedang terpecah saking syoknya.
"Tunggu disitu yah."
Lalu si dokter menutup lagi gordennya.
Tak lama suara lenguhan terdengar lag, "Mmmhh ahh.ah..ah...".
Si ibu menjadi ragu-ragu apakah sebaiknya ia membuka gorden itu atau dibiarkan saja. Tapi Lama-kelamaan bukan cuma suara putrinya, kini ia mendengar suara si dokter, "Mmhh...shh...ahh..yah..dihisap...biar lekas sembuh."
Si ibu semakin khawatir. Akhrinya dia sibak lagi gordennya.
Kali kagetnya menjadi-jadi, sebab burungnya si dokter sudah keluar dari celananya dan ada di dalam mulut anaknya.
"Dokter! Dokter...lagi apa...?" dengan nada agak histeris.
Si ibu tidak mempercayai penglihatannya.
"Aduh ibu ini lagi-lagi mengganggu," Tukas Dr. Pras kesal, "Saya sudah analisa, anak ibu terkena penyakit Vibilio Facumacis, obatnya adalah ia harus dibikin orgasme dan menelan sperma. Kalau ibu ganggu terus, gak selesai loh ini. Saya gak tanggung kalau penyakitnya bertambah parah."
"Ii..iya..tapi dok...."
"Hhhhhh...," Si dokter menghela nafas panjangsambil geleng-geleng. "Ya sudah ibu bantu deh, ibu colok-colok kemaluan anak ibu untuk membangun kekebalan tubuhnya."
Si ibu terdiam dan ragu-ragu.
"Ayo sini...bantu saja...gak apa-apa...daripada ganggu terus..gak selesai-selesai."
"Ii..iya..."
Si ibu berjalan mendekati tempat tidur periksa. Dr. Prasetyo membelakangi si ibu itu lalu ia meraih tangannya dan meletakkan di kemaluan putrinya.
"Nah...sekarang keluar masukin jarinya di lubangya yah..."
"Iii...iya dok..."
Si ibu pun mulai memasturbasi anaknya. Fitri langsung memejamkan mata dan melenguh-lenguh kecil, "Aah..ah...ah..."
Dr Prasetyo tiba-tiba menarik ke atas gamis si ibu. Tentu saja perbuatannya membuat si ibu kaget.
"Dokter ngapain lagi?!"
"Ibu juga perlu dibangun kekebalannya, kalau gak penyakit ini akan menular. Jadi kemaluan ibu juga harus dimainin."
"Yang bener dok..."
"Ya bener, siapa disini dokternya?"
Si ibu kebingungan.
"Ii..iya..."
"Jangan khawatir saya tidak akan sentuh ibu, kalau itu yang ibu khawatirkan, Fitri yang akan bantu prosesnya."
"Maksudnya...?"
"Fitri yang akan gituin ibu..ngerti kan..."
"Hah?"
"Sudah ibu tenang aja, nurut aja kalau mau sembuh yah."
Dr. Prasetyo lalu membungkuk dan memberikan penjelasan kepada Fitri.
"Fitri supaya ibumu gak ketularan kamu keluar masukin jari kamu di lubangnya ibu yah...kayak yang diakukan ibu ke kamu..ok"
"Iya dok..."

"Pinter," ujar Dr. Pras menepuk-nepuk kepala Fitri.

AGEN POKER ANDROID - Dr. Pras bangkit lagi, "Nah ibu..siap ya...saya angkat gamisnya yah...biar Fitri bisa masturbasiin ibu untuk cegah penyakit."
"II..iya dok..."
Dr. Pras pun mengankat gamis si ibu hingga seperut dan menarik turun CD putihnya. Si ibu membantu memegangi kain gamisnya agar jangan jatuh. Dr. Pras sempat menelan ludah saat ia melihat paha si ibu yang semok. Gak kurus, tapi berisi.
"Nah Fitri, sekarang tangannya yuk..."
Fitri mengulurkan tangannya dan menjamah kemaluan ibunya. Jari tengahnnya dimasukkan ke dalam lubang ibunya perlahan, lalu ditarik lagi.
"UUuhh..."
Si ibu langsung memejamkan matanya dan melenguh keenakan.
"Bu maafin Fitri ya, gara-gara Fitri sakit, ibu bisa ketularan juga."
Si ibu buru-buru membungkukkan badannya dan mengelus kepala putrinya
"Sudah kamu gak perlu pikiran itu, yang penting sekarang Fitri keluar masukin jari lubang di lubang ibu, dan ibu colok-colok lubang Fitri yah..biar kita sama-sama sehat," ujar si ibu menenangkan anaknya.
Fitri mengangguk tersenyum.
"Nah sekarang Fitri buka mulutnya AAaaa," perintah Dr. Pras. Fitri menurut.
Dr Pras kembali mengarahkan penisnya ke mulut Fitri dan memasukkannya ke dalam.
"Nah, sekarang kulum batang Dokter ya...obatnya ada di dalamnya mesti dikeluarin, Ok"
"Ngg.." Fitri mengiyakan dengan mulut yang tersumpal batang Dr. Pras.
Dr Pras lalu memaju mundurkan pinggulnya, menikmati batangnya disepong Fitri. Ia tarik lagi ke atas bajunya Fitri, agar ia bisa melihat jelas kedua putingnya. Tngan kanannya bergerak, menjamah dan remas-remas lembut dada Fitri. Sesekali ia pelintir-pelintir putingnya.
"Ngghh...nghh..," responnya.
Sementara itu tangan kirinya digunakan untuk menahan kepala Fitri yang berjilbab agar ia bisa bersenggama di mulutnya.
Nafas si ibu lama kelamaan berubah menjadi tak beraturan. Gerakan jarinya di lubang putrinya pun berubah menjadi semakin cepat.
"Mmhmhh..nghhh..nghh...," lenguh Fitri
Jari Fitri pun juga ikut-ikutan menusuk-nusuk vagina ibunya dengan cepat. Jari mungil itu kelihatan sudah menjadi basah. Cairan bening ada yang mulai turun mengalir dari lubang vagina si ibu ke pahanya.
"Dok...remas dada saya juga dok...plis..." pinta si ibu
Dr. Pras senang mendengar permintaan si ibu.
"Di buka donk bajunya."
SI ibu menurut dan melepaskan bajunya dan dijatuhkan ke tanah. Kini ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan BH saja. Dr Pras berdecak kagum melihat payudara si ibu yang besar.
"BH-nya...di lepas juga....," pinta Dr. Pras dengan suara bergetar.
Tanpa berpikir panjang si ibu melepaskan pengait depan BHnya dan meloloskannya talinya dari pundaknya. Lalu ia jatuhkan ke lantai.
Dr. Pras jadi bernafsu banget ngeliat payudara si ibu yang mantap. Ia pun menangkupnya dari belakang punggung, melewati bawah tangannya, serta memainkan buah dada yang kenyal itu.
Fitri baru kali ini ngeliat ibunya buka-bukaan seperti itu, dan baru pertama ngeliat seroang pria cemek-cemek dada ibunya. Darahnya berdesir. Jantungnya berdegup keras. Semuanya serba baru baginya.
Si Ibu pun mulai menggapai buah zakar Dr. Pras dan mengelus-elusnya.
"AAhh..." Dr. PRas merasakan kehangatan di pelernya..
"Ahh....gak kuat....ahh...keluar...keluar..."
Dr. Pras memegang kepala Fitri dengan kedua tangannya dan memaju mundurkan batangnya di mulut Fitri. dengan cepat. Kumpulan sperma itu tak lama lagi akan meledak di rongga mulut gadis mungil ini.
"Ke..luaaar....aaahhh ahh...."
CROT CROOT CROTT CROT CRET CRET!
"Ahhh...."
Dr. Pras merasakan kelegaan luar biasa. Lalu ia mencabutnya dari mulut Fitri.
"Ditelan yah Fitri...itu obatnya..."
Fitri mengangguk. Ia teguk cairan Dr. Pras. Otot lehernya tampak berkontraksi.
"PInter..."
"Dokter kasih sesuatu buat kamu yah..."
"Apa tuh?"
Dr. Pras mendekatkan wajahnya ke wajah Fitri. Keduanya saling memandang. Lalu Dr. Pras mencium Fitri dan menghisap-hisap bibir atas dan bawahnya.
Si ibu membelalak... melihat Dr. Pras mencumbu putrinya dan Fitri tampak menyukai setiap deitknya.
"Dokter apakah itu juga termasuk pengobatannya?"
Dr. Pras menegakkan tubuhnya.
"Iyah...sudah pasti dan...sekarang ibu jilat vaginanya Fitri, ya"
"Lho kenapa?"
"Iya...karena saliva ibu bisa menjadi bahan tambahan yang menguatkan kekebalan Fitri, seperti vitamin. Jadi jangan lupa, nanti sambil dijilat, juga diludahin sedikit yah."
"Gitu ya dok..?"
"Iyah..."
Si ibu memandang anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Ibu jilat yah, nak.."
Fitri mengangguk.
"Iya, bu terima kasih ya."
Si ibu tersenyum dan mengelus kepala anaknya. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke alat kelamin putrinya. Di buka sedikit bibir vaginanya, diludahi lalu ia mulai menjilat-jilat belahan vaginanya.
"AAhh...ahhh...ahh....enak bu..."
Fitri yang sedang keenakan sudah lupa untuk memasturbasi ibunya. Dr. Pras tidak ingin membiarkan lubang vagina si ibu mubazir.


AGEN POKER TERBAIK - Dr. Pras pun menarik turun gamis roknya, dan ia bisa melihat gundukan yang terbelah dari arah belakang. Ia lalu mengarahkan batangnya ke lubang si ibu. kebetulan posisinya sudah siap untuk di doggy. Tanpa meminta izin lagi, Ia langsung mendorong masuk batangnya ke dalam lubang si ibu yang sudah basah.
"OOhhh...Dr. Praz..." Sebentar ia melihat ke belakang, kemudian ia mulai merasakan kenikmtan hujaman-hujaman tusukan batang si dokter. "Astaga enaknya...." Lalu ia lanjut lagi mengoral anaknya di atas ranjang periksa.
Fitri yang baru kali ini mengalami rasanya di oral, tidak dapat membendung cairannya untuk keluar.
"Bu...mau pipis..."
"Pipis aja Fitri biar kamu sehat..."
"Ahh..ahh..ahh...ibu...duh..gak tahan lagi....KYA!" Fitri menjerit histeris, saat ia mencapai orgasme. Kakinya mendorng pantatnya sampai ke udara, dan vaginanya menyemprotan cairan hingga keluar.
Si ibu buru-buru berpindah untuk melihat wajah putrinya.
"Ahh..ahh..dah keluar nak?"
Dia menanyakan keadaan Fitri selagi sedang disodok sama Dr. Praz dari belakang.
Fitri bisa meihat dari dekat, wajah ibunya yang sedang sangat keenakan. Tubuhnya bergerak-gerak maju mundur, demikian juga buah dadanya.
"Ibu lagi diapain? lagi diobati juga yah?"
"Mmhh ahh ahh.. iya nak.."
"Fitri juga mau...diobati yang seperti ibu..."
Si ibu terkejut mendengar permintaan Fitri...
"Fitri....Fitri masih kecil..ahh ahh..ahh. Belum boleh diobati seperti ini."
Sementara itu dari belakang mempercepat memompa tubuh si ibu.
"Ahh...ahh..ahh..ahhh..."
Alis si ibu mengernyit menahan kenikmatan yang semakin memuncak.
"Tapi Fitri mau....," ucapnya menelan ludah melihat Dr. Praz menyetubuhi ibunya. Walaupun ia belum tahu itu namanya.
Di dalam keadan birahi yang sangat, pikiran si ibu tampaknya semakin tertutup. Bahkan ia mulai merasa birahi terhadap putirnya. Ia menggapai lagi kemaluan Fitri. Ia colok-colok lagi dengan satu jari.
Fitri agak mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang ibunya lakukan di bawah situ. Ia diam saja membiarkan perbuatan ibunya. Sensai nikmat mulai menjalar dari alat kelaminnya. Kemudian dari satu jari berubah jadi dua jari.
"Ohh...oh...yeaaahhh..."
Tapi saat jari ketiga masuk...raut wajah Fitri berubah kesakitan.
"Aw sakit bu..udah..buat keluarin jarinya...sakit..."
"Tahan nak...tahan...biar ibu yang ambil keperawanan kamu yah..."
Fitri bangkit dari tidurnya dan mencoba mencabut jari ibunya dari guanya.
"Sakit bu..."
"Tahan nakk..entar jadi enak lagi.."
Si ibu menidurkan lagi putrinya, kemudian ia jilat-jilat putingnya agar ia merasa lebih nyaman.
"Owwh...shh...kit..."
Sedikit demi sedikit membran keperawanan Ftri pun robek oleh jemari ibunya.
"AAhh sakit...."
Perlahan rasa sakit itu berubah menjadi enak.
"Mmhhh ahh...ahh...shh...."
Ketiga jari si ibu pun berbalur darah keperawan Fitri dan cairan kewanitaannya.
Tiba-tiba hentakan keras penis Dr. Praz menyentuh batas klimaksnya, sehingga si ibu kelojotoan mencapai orgasme.
"Aahhhh...sampai...."
Ia mendorong Dr. Praz agar mencabut penisnya dari lubangnya.
"Saya nanggung bu," keluh Dr. Pras.
Tanpa menanggapinya, si ibu menyuruh Fitri bangun. Fitri menuruti perintah ibunya dan ia duduk di pinggir ranjang periksa.
Si ibu berbalik badan dan naik duduk di sebelahnya.
"Fitri duduk di pangkuan ibu yuk."
"Iyah."
"Lepas tuh CDnya."
"Iya bu."
Setelah itu Fitri berpindah posisi duduk di atas paha ibunya. Kedua kakinya berada disisi luar kaki ibunya. Vaginanya jadi agak terbuka. Setelah itu ibunya membuka lebar kedua pahanya, sehingga kedua paha Fitri juga turut terbuka lebar, mempertontonkan lubang senggamanya.
"Kamu mau diobati Dr. Pras seperti tadi kan?"

AGEN POKER TERPERCAYA - Fitri memandang batang Dr. Pras yang mengacung dan gak bergerak-gerak dikit. Ia menunduk, lalu mengangguk.
Si ibu memandang ke Dr. Pras, "Tolong obati anak saya juga, dok. Pakai cara yang tadi"
Dada Dr. Pras bergemuruh melihat posisi ibu dan anak itu. Mereka berdua masih memakai jilbab. Si ibu sudah tidak berpakaian, Fitri masih lengkap berpakaian, tetapi semuanya sudah disibak.
"Eh..iyah...sebelumnya kalan berdua ciuman dulu biar saliva kalian bercampur di mulut agar bakteri kumannya mati. Si ibu merendahkan kepalanya dan Fitri mengadahkan kepalanya ke atas menyamping. Bibir mereka bersentuhan, lalu si ibu melumat bibir putrinya. Ludahnya dipindahkan ke mulut Fitri, kemudia dengan lidahnya ia mengaduk-ngaduknya di dalam.
Dr. Praz benar-benar terangsang oleh keduanya, ia pun mendekat sambil mengocok titinya. Ia naik ke anak tangga agar batangnya bisa sejajr dengan lubang Fitri. Lalu Blezzzz!
Fitri membelalak saat merasakan sebuah benda besar yang panjang menerobos masuk lubang senggamanya.
Ibunya saja merasa Dr. Pras gede banget, apalagi anaknya.
Dr. Pras tidak bisa leluasa mengeluar masukkan batangnya, sebab seret banget, meskipun lubang Fitri sudah distimulasi sejak tadi dan basah licin.
Batang Dr. Pras benar-benar tidak bisa masuk penuh, meskipun sudah berusaha didorong. Dr. Pras sampai menganga mulutnya, karena jepitannya luar biasa banget. ia yakin pertahannya tidak akan bisa lama dengan keadaan seperti ini. Ia pun mulai memajumundurkan pantatnya dan bersetubuh dengan Fitri.
"Ahh...aahh....shhh...ahhh..."
Kenikamtan yang sama pun juga dirasakan Fitri. Lubangnya terasa penuh. Setiap sensor di kemaluannya mendapatkan gesekan penuh dari bendanya Dr. Pras. Apalagi ini pengalaman pertamanya.
"Dr...dr...dr...Praz....shhh...ahh.."
Si ibu pun membuat anaknya makin gak kuasa menahan nikmatnya seks. Tangannya meraba-raba dan memainkan buah dadanya. Fitri sudah benar-benar pasrah ia bisa meraskan gelombang klimaks bentar lagi datang. Sesaat ia hendak mencapai orgasme, tiba-tiba...
"AKh...keluar.! Dr. keluar!"
Fitri bisa merasakan cairan panas menyembur di lubangnya. Di saat itu juga ia mencapai orgasme. Srrr...Sr...srrr....srr..
"Dr. Aku pipis lagi...."
"Ya bagus itu..."
Keduanya mencapai klimaks bersamaan.
Tak berapa lama setelah itu, kedua nya berpakaian lagi yang lengkap. Mereka kembali ke meja.
"Ok...kalian berdua sudah diberi obat dan disuntik kekebalan, kalau masih belum sembuh datang lagi untuk diadakan pemeriksaan."
"Baik, dok, terima kasih ya. Ayo Fitri bilang apa ke Dr."
"Terima kasih dok."
"Iya...lekas sembuh ya..."
"Ngg!..iya"
Ternyata beberapa hari kemudian Fitri telah kembali menjadi sehat. Kehebatan pengobatan Dr. Prasetyo pun semakin terkenal di antara para wanita.
Sementara untuk si ibu itu dan anaknya, mereka berdua pun jadi sering mencolok-colok vagina mereka satu sama lain, untuk meningkatkan kekebalan tubuh mereka dan tetap sehat .

Apakah anda sudah memiliki user ID  untuk bermain Poker ?  Jika belum segera hubungi Customer Service Online kami di WWW.AGENPOKER.COM dan Customer Service 24 jam kami akan melayani anda dengan ramah mengenai proses registrasi dan deposit. Jika anda tertarik untuk mendaftar, anda bisa mengisi kode berikut untuk memenuhi kolom referal http://www.agenpoker.com/ref.php?ref=VIVI303